[OneShot][Taeyang-OCs] Story of Bestfriends

Sorayong©ALL RIGHT RESERVED
ALL CASTS IN MY FANFICS AREN’T MINE EXCEPT THE OC’s!
ALL PARTS OF THIS STORIES ARE MINE ! PLEASE DON’T COPY AND RE-POSTING WITHOUT
MY PERMISSION!  NO PLAGIARISM!
PROTECTED BY  GCD
©!


-Happy Reading-

 

“Kita tidak akan pernah bertengkar kan Heera?” tanyaku pada Choi Heera di suatu senja yang indah. Mentari tenggelam di ufuk barat begitu nampak jelas terlihat indah dari bukit di mana saat itu aku dan Heera duduk  bersama.

“Tentu saja  tidak Saerin. Kita kan sahabat! Kenapa kau bertanya seperti itu?” Heera menampakkan  wajah bingungnya yang lugu.

“Entahlah… Hahaha,” Aku menjawab sambil  tertawa. Heera yang tidak mengerti hanya ikut tertawa saja. 

Choi Heera dan Cho Saerin,dua sahabat yang tidak bisa dipisahkan. Choi Heera dan Cho Saerin, dua sahabat  yang pernah mengukir kebahagiaan bersama. Ya, aku dan  Heera pernah melakukannya. Bisakah kalian menggarisbawahi kata pernah yang sedang kutulis saat ini? Heera dan aku hanyalah sebuah sejarah. Waktu, ruang dan manusia itu kini sudah tidak lagi sama.

Choi Heera dan Cho Saerin sudah tidak lagi sama seperti masa lampau. Sejarah tetap hanyalah sebuah  sejarah.

“Saerin…” suara  Eomma menghentikan  sementara kegiatanku menulis  catatanku kali ini.

“Ne!”  kujawab dengan enggan panggilan eomma sambil melangkah lesu menuju ruang makan tempat suara eomma tadi berasal.

“Saerin-ah! Kau sudah besar rupanya! Wah.. kau semakin cantik  saja,” bibi Gong,  sahabat eomma sedang duduk  di ruang makan dan melihatku mulai menuju ke sana. Bibi Gong selalu saja begitu, mengatakan hal  yang baik-baik  tentangku padahal aku tahu dengan jelas dia tak lebih dari seorang penjilat.

“Ne, ahjumma..” sapaku pada bibi Gong berusaha terlihat ramah meski rasanya ingin sekali kujambak rambut pendek model boyish-nya lalu kuseret dia keluar dari rumahku ini.

“Saerin-ah, kenapa kau masih begitu! Tersenyumlah! Lihat bibi Gong saja sudah bisa merelakan kepergian Heera. Jangan membuat bibi Gong semakin sedih karena melihatmu masih saja bersedih,” Eomma berbisik  sambil menggiring tubuhku untuk duduk dan bergabung makan malam dengan eomma, bibi Gong dan paman Choi.

“Ne..” bisikku pelan pada eomma.

Kalau bukan karena aku tidak ingin membuat eomma bahagia, aku tidak akan pernah sudi duduk dan  makan bersama dengan  orang sekotor  bibi Gong! Sampai matipun aku tidak akan pernah mengampuninya.

Makan malam kali ini sungguh sangat memualkan. Setiap nasi  yang masuk ke dalam  perutku serasa ingin menghambur keluar. Entah karena efek dari obat yang kukonsumsi  demi mengembalikan lagi kesehatanku atau karena  kehadiran salah satu orang yang paling kubenci  di dunia. Aku tak tahu yang mana yang menjadi penyebabnya.

“Eomma, aku sudah selesai. Aku naik ke atas dulu. Banyak tugas kantor yang harus kuselesaikan…” pamitku pada eomma. Meski tidak menjawab aku tahu eomma pasti sedang bingung karena aku tidak menghabiskan sup jagung kesukaanku kali ini.

Sungguh demi apapun yang ada di langit, aku ingin pergi  saja dari dunia ini.

Heera,  tidak bisakah kau membawaku sehingga kita bisa melanjutkan perang itu di neraka? Tidak bisakah Heera?

***

Ponsel di nakas  samping tempat tidurku bergetar  dan membuatku  sadar sudah saatnya untuk bangun dan kembali menatap hari. ‘SAERIN-AH! FIGHTING!’ tulisan Hangeul milik Heera  terpampang jelas di lemari baju yang posisinya tepat  di depan tempat  tidurku.  Tulisan itu memang sengaja kupindah ke  sana agar setiap bangun aku tidak lagi merasa telah kehilangan orang itu. Tidak! Tidak pernah!

Untuk mengusir suasana buruk hatiku, kuambil ponsel di atas nakas  yang sukses membuatku bangun sepagi ini. Setelah kunyalakan layarnya,  ternyata ada sebuah pesan  masuk.

From : YB-SUN

Saerin.. are you okay? If you only knew,  I have bad days during this time. Blame me for everything! Don’t ever blame yourself or my mother. She doesn’t know anything. Please…

Tidak perlu kuulangi membaca lagi karena aku sudah sangat mengerti maksudnya. Dasar pria laknat! Sudah  sekian tahun  dan  kau baru berani menghadapiku! LAKNAT! BERENGSEK! TIDAK TAHU MALU! Tidak ubahnya seperti ular dalam kisah penciptaan! Dia yang sudah  membawaku  masuk  dalam perangkap si jahat dan membuat satu persatu orang yang kukasihi meninggalkanku! Dong Youngbae! Kau pikir selama ini aku hanya menyalahkan  diriku saja? Atau bibi Gong? KAU SALAH!

To : YB-SUN

Youngbae-ssi, you’re  such as a jerk yet bastard! KEEP THAT!

Kutekan tombol  kirim dan mengirim pesan  singkat itu sebagai balasan untuknya. Dia kira aku  siapa? Cho Saerin  yang begitu mudah diperdaya  seperti dulu lagi! Sama sekali bukan! Kau sedang menggali lubang kuburmu sendiri Youngbae!

Ketimbang memikirkan laki-laki yang sudah pergi sekian tahun itu, lebih baik  aku mempersiapkan  diri untuk  pekerjaanku pagi ini. Sebagai seorang staf ahli  sumber daya manusia, hari  ini aku  harus menemui atasan baruku. Dia baru saja dipromosikan dari  Jepang  dan dipindahkan ke Korea karena keberhasilannya meningkatkan nilai saham perusahaan tempatku bekerja.

Seusai mandi kumasukkan beberapa arsip yang harus kukirim pagi ini ke kantor pusat di Milan, Italia ke dalam tas tanganku.  Kadang aku berpikir bagaimana bisa lulusan psikologi  dari Seoul Nation  University sepertiku ini bisa terjebak dalam sebuah perusahaan swasta semacam ini.

Nasib! Siapa yang bisa menebaknya.

“Eomma, aku pergi dulu. Sudah hampir terlambat,” aku pamit pada eomma yang masih sibuk memasak di dapur. Kukecup pipinya singkat kemudian mengambil roti bakar  yang tergeletak menggirukan di  atas meja.

“Saerin!” Appa memanggilku dari ruang kerjanya yang memang harus kulewati sebelum bisa  keluar dari rumah melalui pintu garasi mobil.

“Ne appa,” jawabku.

“Appa titip ini untuk bos barumu nanti!” ujar Appa seraya memberikan padaku sebuah amplop coklat tipis. Kuambil amplop itu dari tangannya dan segera meneliti untuk menerka-nerka dokumen macam apa yang ada di dalamnya.

“Sudah! Jangan kau lihat-lihat terus! Jangan lupa berikan utuh pada atasan barumu nanti! Jangan coba-coba kau buka mengerti!” Appa berkata penuh keseriusan.

“Ye!! Aku mengerti, tapi bagaimana bisa  Appa mengenal atasan baruku sementara aku saja belum bertemu apalagi mengenalnya? Lagipula bagaimana bisa Appa mencampuri urusan pekerjaanku?” Aku mulai menggunakan otak detektifku kali ini. Semuanya terlalu mengherankan.

“Aish! Sudah jangan banyak tanya! Segeralah berangkat, nanti kau kesiangan,” Appa mengusirku dengan kedua tangannya. Aku mau tidak mau pergi dengan pikiran yang masih diselimuti tanda tanya.

Jalanan kali ini berpihak padaku. Dalam waktu kurang dari setengah jam aku sudah sampai di kantorku yang besar ini. Segera kulangkahkan  kaki menuju lift, dan  menaiki box besi yang akan menghantarkanku ke lantai tempat ruang kerjaku berada itu.

“Lantai 12 bagian sumber daya manusia, perancangan strategi dan penciptaan citra!” ujar si pemandu lift yang bertugas mengoperasikan  lift ini sehingga ratusan orang yang menggunakan lift ini tidak perlu repot-repot memencet tombol ataupun aktifitas lain yang berhubungan dengan sistem operasi di lift ini.

Lantai 12 adalah tempat ruang kerjaku berada. Baiklah Saerin, saatnya kembali berkutat dengan tumpukan kertas-kertas dan dokumen itu!! SEMANGAT!! Ujarku menyemangati diri sendiri dalam hati.

“Pagi Saerin –ssi” Sandara, salah satu seniorku di sini menyapaku. Kubalas sapaannya dengan membungkukkan badan dan memberikan senyum simpul.

“Saerin-ssi!! Lekaslah ke ruangan kepala divisi SDM. Kau sudah ditunggu oleh atasan yang baru pindah itu!” Seunghyun, wakil kepala divisi SDM berteriak padaku dari bilik kerjanya. Aku hanya mengangguk sebentar lalu lekas memasuki kantor kepala divisi SDM yang tepat berada di sisi ujung ruangan divisi SDM ini.

“Anyeonghasseyo,” sapaku.

Orang itu segera membalik posisi duduknya yang tadinya membelakangiku. Demi apapun yang ada di dunia ini, aku begitu kaget melihat orang itu.

“KAU!” teriakku histeris.

“Saerin-ssi!” berbeda denganku dia menjawab dengan sangat tenang. Laki-laki ini benar-benar belum berubah. Dia tetap saja menjadi air laut yang tenang namun diam-diam menyimpan kekuatan besar yang bisa keluar tiba-tiba saat badai ataupun pasang ombak.

Aku yang sudah masuk ke dalam ruangan ini mendadak ingin segera keluar.

Sayangnya, pria itu berhasil menghentikanku. Dengan sigap dia meraih tanganku dan membawaku pada posisi yang terpojokan. Selalu begini! Sejak  dulu aku benci posisi seperti ini.

“Youngbae-ssi, aku harus keluar!” aku berdesis dingin padanya.

“Tidak sebelum kau berjanji akan mendengarkanku lebih dahulu!” Youngbae bicara tak kalah dingin denganku.

“Youngbae-ssi kuperingatkan sekali lagi, lepaskan aku!” kini intonasiku mulai naik satu oktaf mencoba menakuti laki-laki ini meski aku tahu itu tidak akan pernah berguna.

“Baiklah!” Dia melepaskanku dari jeratannya, entah setan atau malaikat macam apa yang merasukinya.

“Aku pergi. Sampai bertemu di rapat awal bulan siang ini!” Kulangkahkan kakiku keluar dan tidak ada sedikitpun reaksi yang dia berikan. Hati kecilku sebenarnya masih berharap dia menghentikanku lagi kali ini. Setidaknya aku tahu bahwa dia masih mengharapkanku. Ya Tuhan, jernihkanlah pikiranku.

***

Aku tidak bisa berkonsentrasi pada rapat kali ini. Bagaimana bisa? Youngbae selalu saja menatapku dengan pandangan yang tidak bisa kujelaskan. Aku benar-benar risih dibuatnya.

Akhirnya, di sinilah aku sekarang , di dalam ruangannya dan menuntut penjelasan atas apa yang dia lakukan selama rapat awal bulan divisi satu SDM.

“Aku hanya mencoba mencari tahu apakah kau masih Saerin-ku,” ujarnya singkat namun cukup membuat jantungku bekerja melewati ambang batas.

“Youngbae-ssi, aku tidak pernah menjadi milikmu. Tidak akan pernah,” aku hanya bisa berujar penuh luka.

“Saerin-ah,” Youngbae masih saja mencoba mengembalikan memori-memori yang pernah ada di antara kami. Aku berusaha dengan keras membuat memori penuh luka itu tidak kembali muncul dan mengotori pikiranku lagi.

“Anniyo..” bisikku.

“Saerin-ah.. kumohon. Tidak bisakah kita mengulang lagi semuanya?” Youngbae masih tetap mencoba membuat memori-memori itu melayang dan merasuki pikiranku.

“Anniyo…” aku mati-matian menolaknya. Aku tidak ingin merasakan sakit itu lagi. Aku tidak ingin kehilangan siapa-siapa lagi. Cukup Heera saja, cukup ! tidak boleh ada yang lain lagi!!

Youngbae masih saja memutar-mutar memori itu dalam anganku. Aku mencoba sekuat tenaga menutup diriku. Tidak..

“Anni…”

“Anni…”

Aku sadar tubuhku kini bergetar. Mungkinkah aku kembali chaos? Aku tidak sanggup lagi.

Setelah itu yang ada hanyalah hitam dan kelam.

***

“Kita tidak akan pernah bertengkar kan Heera?”

“Tentu saja  tidak Saerin. Kita kan sahabat!”

Adegan dua remaja sedang berbincang-bincang sambil menanti sang mentari masuk ke peraduannya menyapaku kali ini.

Lalu, laksana dihempas oleh kekuatan medan magnetik tak terlihat, aku dibawanya pada masa yang lain lagi. Kali ini adegan seorang remaja putra dan dua remaja putri yang sedang asik membersihkan kelas mereka.

“Choi Heera awas!!”

“Heera!!”

“Ack!” dan setumpuk buku di sisi almari jatuh menimpa gadis remaja berambut panjang sebahu itu.

“Hahaha…” tawa meledak dari seorang gadis yang lain.

Aku mengenal kejadian ini dengan sangat. Ini adalah hari di mana untuk pertama kalinya Heera berhasil berbicara dengan Dong Youngbae, teman sekelas kami di tahun kedua SMA. Youngbae adalah laki-laki yang sejak tahun pertama SMA di sukai oleh Heera.

Saat itu Heera pulang dengan senyuman paling lebar yang pernah dia berikan pada orang-orang di sekelilingnya. Akupun hanya bisa ikut bahagia melihatnya bahagia.  Terlebih lagi sebenarnya sebelum pulang Youngbae menyempatkan diri berbicara denganku. Youngbae memintaku untuk bisa menjadi cupid cintanya dengan Heera.

Ya Tuhan! Aku bersumpah jika bisa aku ulang kejadian itu maka aku akan memilih menyuruh Youngbae berusaha sendiri  menggapai cintanya. Dengan  begitu, dia tidak perlu mengenalku terlalu dalam, tidak perlu tertarik padaku dan tidak perlu dengan tiba-tiba berpaling  dari sahabatku  Heera.

Maafkan aku  Heera… Maaf…

Sedetik kemudian, gelombang magnetic itu kembali menghisapku dan memindahkanku ke bagian selanjutnya dalam kisah cinta rumit ini.

“Cho Saerin…” Youngbae menyebut namaku.

Aku yang saat itu hanya terduduk menatap bintang dari atap sekolah masih saja membisu.

“Saerin…” Youngbae mendekatiku dan membawaku dalam pelukannya. Aku hanya bisa menangis. Rasa bersalah membawaku pada keputusan untuk menghentikan semua perasaanku untuk laki-laki itu.

Youngbae mendekapkan wajahnya pada surai-surai rambutku yang terbenam dalam dadanya.

“Salahkah kalau aku mengatakan aku memang mencintaimu Saerin?” Youngbae berbisik.

“Salah..” aku menjawab datar.

“Salahkah kalau ternyata aku menyadari bahwa sosok Saerin yang kubutuhkan ?” bisiknya lagi dengan nada yang sudah rancu karena tertutup oleh isak tangis pelannya.

“Salah..” aku masih saja menjawab dengan datar.

Perlahan Youngbae membalik tubuhku yang membelakanginya.

“Saerin..” Youngbae memperbaiki letak rambut yang menutupi sebagian wajahku.

“Ijinkan untuk yang terakhir..” Youngbae menahan ucapannya sebentar sebelum kemudian mendekati wajahku dan setelah itu adalah sejarah. Tidak perlu kuceritakan bagaimana dua remaja yang sakit hati mengakhiri hubungan mereka dalam sebuah dekapan lembut bibir-bibir manja. Youngbae dan aku melukis malam itu dengan sebuah pena tajam bernama kenangan. Malam itu hanyalah sebuah kenangan.

Buuk..

Beberapa besi terjatuh dari posisinya dan membuat bunyi gaduh menghentikan kegiatanku dan Youngbae yang sedang menyulam benang kepahitan.

Choi Heera! Ya, gadis itu melihat semuanya. Dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sahabatnya mengkhianati dia dengan mencium kekasih atau bisa dibilang calon kekasih yang sangat dicintainya. Akulah sahabat laknat itu.

“Heera..” teriak Youngbae saat Heera dengan tangkas langsung berlari menuruni tangga dan keluar dari gedung sekolah. Aku hanya bisa memperhatikan bagaimana kemudian Youngbae mengejarnya dan meninggalkanku sendirian dalam lorong sepi kerinduan.

Neomu appa. It’s more than just hurts..

Meski hanya menyaksikan semua kejadian itu, namun aku ikut menangis. Betapa bodohnya aku membiarkan hatiku dan hati Youngbae saling bertaut sementara Heera tertinggal di belakang bagai boneka yang tak tahu apa-apa.

Mungkin itulah perasaan Rosaline, gadis yang seharusnya menjadi pendamping dan mengisi hati Romeo dalam sastra klasik Romeo dan Juliet. Malam itu dalam pesta, sebenarnya Romeo datang untuk cinta pertamanya, Rosaline, namun hatinya justru terpaut pada Juliet yang jelas-jelas menyandang nama belakang paling tidak disukai keluarga Romeo.

Jahatkah Juliet? Tidak.

Jadi, jahatkah aku? Tidak. Aku harap Heera bisa mengatakan hal itu padaku sekarang.

Tiba-tiba saja adegan di depanku sudah berganti latar menjadi sebuah kamar apik bernuansa biru laut yang cantik. Aku mengenal kamar ini dengan sangat, kamar Heera.

Aku ada di dalam lemari Heera, hendak meminta maaf padanya atas kebodohanku mencium Youngbae.  Malam itu aku sengaja masuk diam-diam ke rumah dan kamar Heera, karena jika tidak begitu Heera tidak akan mau menerimaku masuk. Dia benar-benar menjauhiku setelah kejadian itu.

Aku menunggu saat-saat Heera akan tidur dan masuk ke kamarnya. Lama sudah aku bersembunyi di lemari besar itu, namun Heera tak kunjung datang.

Akhirnya kudengar juga derap langkah kaki-kaki manusia yang akan memasuki kamar ini.

Aku sudah akan keluar dari persembunyianku, namun urung kulakukan karena kudengar Heera yang tak hanya sendiri masuk ke dalam kamarnya. Bisa kudengar derap langkah lain lagi. Kini mereka sudah memasuki ruangan  kamar ini.

“Eomma…. Mianhae…” Isak tangis  Heera menyambut masuknya dua manusia itu di ruangan ini.

Plak.. bisa kudengar dengan jelas bunyi tamparan  keras. Aku tidak yakin, namun sepertinya itu dilakukan oleh  BIbi Gong, ibu Heera.

“Eomma.. Mianhae…” sekali lagi isak tangis Heera bisa terdengar bahkan saat aku tengah dalam persembunyianku di balik  almari besar  ini.

“Choi Heera…” akhirnya suara itu membuatku yakin kalau itu memang bibi Gong. Bibi Gong terdengar sangat marah. Ada apa sebenarnya? 

Plak… Sekali lagi suara tamparan keras itu menusuk jantungku. Membayangkan kejadian yang terjadi di luar almari ini sangat mengerikan.

“Heera.. Kau sebenarnya sudah tau kan kalau Youngbae itu anakku??”

“Anniyo eomma…”

Plak..tamparan selanjutnya terdengar.

“Jawab  yang jujur! Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan! Jauhi  Youngbae! Ingat itu….”

“Eomma…” Heera kini terdengar  sangat memelas.

“Jangan lagi  memanggilku Eomma! Aku lelah mendengarnya… Kau bahkan tidak  pernah kuanggap sebagai  anak  tiriku. Anak tiri macam apa yang berani  membangkang!”

Bruk..

Pintu  kamar ini ditutup dan aku hanya bisa terus mendekap mulutku menahan semua perasaan yang bercampur aduk.

Inilah.. Ini adalah hari terakhir aku  mendengar suara Heera. Ini adalah hari terakhir aku bisa mengenang  sosok itu sebelum dia pergi  meninggalkanku.

Kini gelombang magnetic itu menarikku lebih dalam lagi meninggalkan rasa sakit yang terus membekas hingga kapanpun dalam hatiku. Gelombang ini seolah menyadari kalau kenangan itu adalah lubang hitam terkelam dalam kehidupanku.

Kenyataan bahwa kehidupan Heera tidak semanis  yang kukira menghancurkanku. Heera tak pernah cerita bahwa bibi Gong adalah ibu tirinya dan bahwa Youngbae sebenarnya  adalah kakak tirinya. Ya Tuhan,  sahabat macam  apa  aku ini. Bejat, bodoh, egois!

Kini aku berada di suatu rumah duka. Ini  adalah hari pemakaman  Heera. Aku sungguh ingat benar. Malam setelah aku bersembunyi di dalam almari baju Heera, aku keluar lewat jendela. Saat itu Heera sudah tak lagi nampak di kamarnya.  Kupikir tadinya  dia ada di ruangan lain di rumah ini.

Sayangnya, semua salah. Pagi hari aku mendapat kabar bahwa  Heera ditemukan tewas di sebuah  jalan yang bahkan tidak kukenali.  Heera dan aku tak pernah kesana sebelumnya. Entahah.

“Heera… Anakku….” Bibi Gong menangis tersedu-sedu sementara sosokku yang kala itu masih remaja memandangnya dengan  tatapan penuh kebencian. Dia yang mengatakan bahwa dia tak pernah menganggap Heera anaknya ini berteriak-teriak, menjerit-jerit menyebut Heera sebagai anaknya. Dasar penjilat!

Aku muak…

Kumohon bawa aku kembali  ke alam sadarku.

“Saerin…”

Aku menoleh pada asal suara itu samahalnya dengan sosokku sepuluh  tahun lalu yang juga  menoleh ke asal suara itu.

Youngbae…”  aku  berlari. Berlari  menjauhi Youngbae. Meninggalkannya. Aku takut menghadapinya. Takut menghadapi kenyataan bahwa Youngbae dan  Saerin  adalah sosok yang menyebabkan Heera menjadi seperti ini.

“Saerin…”

“Saerin…”

“Anniyo… Anniyo…” aku masih meracau. Perlahan  kubuka mataku.

“Dong Youngbae..” bisikku perlahan sambil melihat ke seluruh sisi ruangan ini. Asing.

“Syukurlah kau sudah sadar. Tadi kau  pingsan dan akhirnya kuputuskan untuk segera membawamu ke rumah sakit..” Youngbae memberi penjelasan padaku.

“Aku ingin pulang..” ujarku seraya mencoba bangkit dari tidurku.

“Saerin…” Youngbae menahanku dengan kedua  tangannya. Akupun melawannya sekuat tenaga.

“Saerin…” Akhirnya Youngbae memelukku untuk menghentikan usahaku. Aku hanya bisa membeku.

“Mianhae Saerin-ah…” Youngbae menangis. Dapat kurasakan air matanya jatuh membasahi beberapa helai rambutku hingga terserap oleh atasan berbahan katun yang kini kukenakan.

“Malam itu… Malam itu…” Youngbae bicara terbata-bata.

“Malam itu sebenarnya Heera datang ke  rumahku. Dia meminta maaf atas kelancangannya membawa kembali ibu kandungku dalam kehidupanku. Dia juga menanyakan tentang seberapa cinta aku padamu…” Youngbae terdiam sejenak dan aku semakin membujur kaku. Heera kenapa kau begitu?

“Aku..” Youngbae melanjutkan. “Aku menjawab bahwa aku mencintaimu setulus hatiku. Bahkan jika aku tidak bisa memilkimu maka mencintaimu pun cukup bagiku…”

Youngbae babo! Ingin rasanya aku memaki pria ini, namun bibirku tetap kelu tak unjung bergerak.

Youngbae mengurai pelukan sepihak ini dan membiarkanku terbebas dari jerat jemarinya yang menyesakkan dada. Jari-jari itu laiknya cintaku pada Youngbae yang kian hari semakin menimbulkan luka dan perasaan bersalah. Ini semua salah sejak awalnya.

“Saerin, tidak bisakah kita memulai lagi dari awal?”

“Youngbae , apapun yang terjadi antara kau dan aku akan tetap ada baying-bayang Heera dan aku membenci itu!”

“Ini tentang kau dan aku bukan kita dengan Heera atau aku dengan Heera atau kau dengan Heera ata apapun itu! Aku menyayangi Heera sebagai sahabat sama sepertimu! Aku juga kehilangan dan merasa bersalah! Tapi kalau rasa bersalah itu tidak kita lawan, kita hanya akan menjadi seonggok sampah  terbuang yang tidak bisa melanjutkan hidup Saerin!”

“…..”

Tangis itu meluncur  deras kali ini. Aku kalah dan menyerah. Youngbae benar, selama ini aku hanyalah seonggok sampah yang hanya menyalahkan orang lain dan tidak pernah mau belajar memaafkan. Tidak memaafkan orang lain dan bahkan diriku sendiri. Aku terlau pengecut.

“Aku..” kumulai menyampaikan yang sebenarnya.

“Saranghae…” dan kata itupun meluncur dari bibirku. Youngbae membawaku ke  dalam  pelukannya sekali lagi.

“Tenanglah…” Youngbae mengusap kepalaku mencoba untuk menenangkanku.  Tangis ini  entah bahagia atau kesedihan. Heera, bolehkah aku melanjutkan hidupku?

“Salahkah ini Youngbae?” tanyaku.

“Jika kau percaya ini bukan  suatu kesalahan maka ini tidak akan menjadi sebuah kesalahan Saerin,” Youngbae bicara penuh kelemahlembutan.  Betapa rindunya aku pada suara ini. Ya, aku memang mencintainya. Heera untuk kali  ini  restuilah kami.

***

“Kita tidak akan pernah bertengkar kan Heera?”

“Tentu saja  tidak Saerin. Kita kan sahabat!”

Sahabat tak terdefinisikan. Ketika kau menemukan kedamaian dalamnya itulah sahabat. Sudahkah kamu menjadi sahabat untuk dirimu sendiri?

-FIN-

A/N : HELLO!! *waves* cuma mau minta maaf atas cerita aneh bin ajaib ini. trus untuk @audereyee happy reading ya my bestiest. Semoga ini tidak akan pernah terjadi pada B4 (ammen). Buat Choi Heera, meski kali ini tokoh sampingan tapi Heera sebenarnya sumber semua peristiwa ini loh ^_^ okay, thanks for reading ^_^

10 thoughts on “[OneShot][Taeyang-OCs] Story of Bestfriends

  1. HeeRanya metonk!!hiksss…
    Bagus,as usual…tp ntah apa kali ini ada yg kurang. Tdinya kupikir background HeeRanya masih nyambung dr yg pertama,yg mommynya orng Indonesia,hehe..
    ‘Depresi’nya Saerin dapet bgt,tp koq closingnya rada ‘too easy’ gtu ya, kurang emosional. I like it anyway…slalu semangat & penasaran klo di inbox muncul notif update FF kamu. Thanx,Sekar.. Gud job!!^^

    • hehehe makasih kakak teeka.. ia nih si Heera nya kali ini kubuat agak “gelap” gimana gitu LMAO ~~ ada yang kurang ya sama endingnya.. aku juga merasa igtu hiks..hiks.. makasih lho kak udah koomen ^^🙂 love love ^^

    • terimakasih udah mau baca dan komen ^^ kekkee Heera anak baik-baik kok gak akan ngerebut YB ^_^ Saerinnya tuh dasar! minta digiles /di tendang yang punya nama/ hahaha xDD

  2. aaahhh… Kasian heera..😥 sekar ko bkinnya begini sih seakan2 saerin yg salah… Youngbae knp sih kamu mempermainkan hati wanita😥 hatiku juga di permainnkan olehmu,, makannya q pilih seungri *lha jdi ngaco* tpi keren loh sekar…. Mungkin ini yg namanya cinta.. *eciee*

    • ia kasihan si Heera nya😥 kenapa ya? karena ada dendam kesumat sama yang punya nama Saerin /slapped/ nggak denk.. sebenarnya jahat atau gak itu relatifkan.. seperti analogi Romeo-Juliet-Rosaline ^^ apa juliet jahat? kita gak pernah bilang gitu kan ~kekeke
      makasih udah baca dan komen ya kak ^^ love you🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s