[Taeyang-OC] [SunSky] I Love You My Eonni Hubby

TITLE : I love you my Eonni hubby

CASTS : Dong Youngbae (Taeyang), Choi Heera (OC), Lee Chaerin (CL), and another surprise cast ^.^

DISCLAIMER :

 Sorayong©ALL RIGHT RESERVED
ALL CASTS HERE ISN’T MINE EXCEPT THE OC’s!
ALL PARTS OF THIS STORY IS MINE ! PLEASE DON’T COPY AND RE-POSTING WITHOUT
MY PERMISSION!  NO PLAGIARISM!

PROLOGUE

Apa, apa, dachyeobeorin mami manhi manhi
Oh my honey honey baby, eotteoke haeya hajyo?

Sakit. Sebuah kata yang jelas menggambarkan perasaan tiga insan manusia yang kini berdiri bersama berdampingan. Lee Chaerin yang harus merasakan sakit karena sadar akan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Dong Youngbae yang merasakan sakit karena cintanya termakan oleh darah yang lebih kental daripada air. Terakhir, Choi Heera yang merasa sakit mendalam karena cobaan bertubi-tubi hingga bahkan cinta pun tak dapat diraihnya.

Ketika cinta datang. Menyusup dan merusak segalanya, cinta yang baru akan mengobati luka lama itu.

~~~ ~~~

Dong Youngbae’s

Pria betubuh tinggi tegap itu berjalan penuh perasaan bahagia. Hari ini dia akan mengunjungi pasien kesayangannya. Pasien yang satu ini berbeda dari pasien-pasiennya yang lain. Dong Youngbae, nama pria yang kerap di sapa dokter Young itu begitu tertarik dengan kehidupan pasien yang baru satu bulan belakangan ini berobat padanya.

Youngbae adalah seorang psikiater. Setiap hari dia menghadapi banyak jenis penyakit jiwa. Namun, kali ini, dia berani mengatakan bahwa dialah yang kali lain harus menemui psikiater dan menceritakan penyakit jiwanya sendiri.

“Aku sudah terkena tanda-tanda kelainan jiwa!” begitu cerita Youngbae pada sahabatnya, Choi Seunghyun yang juga ahli psikiatri, di suatu pagi yang cerah.

“Sejak kapan kau tidak kelainan Youngbae?” gurau Seunghyun.

“Hey! Jahat sekali kau ini! Apa kau tahu, aku rasa aku harus segera membuat janji konsultasi denganmu,”

“Bicara apa kau ini?”

“Sungguh! Kau tahu, rasanya setiap detik aku bernapas yang bisa kuingat hanya bayangannya. Setiap molekul oksigen yang bertukar dalam bulir-bulir alveolusku meneriakan namanya hingga dadaku terasa sesak jika tak segera bertemu. Jantungku bisa tiba-tiba bekerja diluar batas ketika iris mataku  membentuk bayangan tubuhnya. Neuron-neuron sarafku juga selalu mengirim impuls huruf demi huruf namanya sehingga aku tak bisa ingat lagi apa yang harus kulakukan saat berpapasan dengannya,” Youngbae bicara dengan mata tertutup seolah membayangkan kata apa lagi yang bisa melukiskan segenap perasaanya.

Seunghyun hanya memandang heran pada rekan sejawatnya ini. Dia akhirnya berhenti pada suatu kesimpulan yang menurutnya tidak salah sama sekali. “Kau jatuh cinta?” tebak Seunghyun.

“Mengapa kau menggunakan frasa jatuh cinta? Aku lebih senang menyebutnya dengan mencintai seseorang,” kini kedua kelopak mata Youngbae sudah terbuka menunjukkan kedua bola mata hitamnya yang pekat mempesona.

Lalu, Youngbae melanjutkan, “Kenapa kita harus memasangkan cinta dengan jatuh. Apakah sesakit itu merasakan cinta? Apakah merasakan cinta sama sakitnya dengan ketika kita terjatuh? Bagiku tidak. Aku benar-benar bahagia sekarang!”

“Terserah kau sajalah! Aku sedang banyak pasien,” Seunghyun beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan Youngbae di ruang kerjanya.

Sebelum mencapai pintu Seunghyun berbalik dan berkata, “Ohya, jika bagimu kau ini sedang bahagia, maka bagiku kau ini sedang gila!” kemudian dia menghilang seiring dengan ditutupnya pintu itu.

Mungkin memang saat ini Youngbae sedang gila, tapi dia tak lagi ambil pusing. Dia hanya terus berjalan menyusuri koridor untuk mencapai kamar sang pujaan hati di sudut lorong.

“Selamat pagi,” Youngbae membuka pintu kamar rawat berkelas VVIP itu dan menemukan seorang gadis manis duduk termenung di sofa kecil dekat jendela.

Sofa berwarna maroon itu seakan menenggelamkan tubuh mungil sang gadis. Kakinya dia tekuk dan kedua tangan putih pucatnya merangkul kaki itu. Badannya panjang meringkuk seolah tak tahan menghadapi musim dingin yang sudah menyapa Seoul bulan ini.

“Kau kedinginan?” tanya Youngbae sembari berjalan perlahan mendekati gadis yang tampak rapuh itu.

Tak satupun jawaban keluar dari gadis itu.

Selalu seperti ini, pikir Youngbae.

“Choi Heera,” panggil Youngbae.

“Choi Heera-ssi? Kau mendengarku?” sekali lagi Youngbae mencoba memanggl gadis itu, namun tak ada tanggapan sama sekali.

“Ah… kau mendengarkanku rupanya,” Youngbae tetap bicara seakan-akan Heera memang menanggapi obrolannya.

“Kau tahu Heera, ini sudah minggu terakhir bulan November. Sebentar lagi kita akan mengikuti masa adven kemudian natal! Kau pasti tidak sabar menunggu natal kan?”

Natal. Natal adalah moment yang selalu disukai hampir semua orang di dunia, termasuk Youngbae. Dia pikir Heera-pun begitu. Sayangnya itu semua salah. Mendengar kata natal di sebut Heera sontak berdiri dan berjalan cepat menuju nakas di dekat tempat tidurnya. Sepersepuluh detik kemudian, vas kaca berisi mawar segar di atas nakas sudah hancur lebur di banting oleh Heera.

Youngbae terkejut menyaksikan aksi Heera barusan. Sesigap tentara di perbatasan Korea, Youngbae memeluk Heera dan menenangkannya. Heera memberontak. Tubuhnya meronta, melawan, dan mencoba keluar dari dekapan Youngbae.

Tak mau kalah Youngbae terus mendekap Heera erat. Dia mencoba menarik Heera masuk ke dalam dunianya. Dia ingin Heera percaya padanya dan mau menceritakan segala beban penderitaannya pada Youngbae.

Heera menyerah dan mengaku kalah. Kegigihan Youngbae dan perasaan aman di dekapan pria itu membuat Heera pada akhirnya memilih untuk menyerahkan segala bebannya. Heera merasakan kehangatan yang sudah lama hilang dari hidupnya. Pecahan-pecahan hatinya yang berserak perlahan mulai tersusun kembali.

Tangis Heera pecah dalam dekapan Youngbae. Masih seperti dulu, tak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulut Heera. Hanya bulir-bulir air matanya saja yang jatuh dan isak tangis yang terus menggema. Heera masih belum mau bersuara dan ini membuat Youngbae sedikit kecewa. Di sisi lain, keputusan Heera untuk menyerah dan melebur batas tembok antara mereka selama ini cukup melegakan untuk Youngbae.

Percayalah Heera, aku akan mengembalikan suaramu lagi. Aku akan membuatmu kembali menatap dunia dan berteriak atasnya. Percayalah padaku Heera! Youngbae menggaungkan tekad itu dalam hatinya.

Sejak kejadian hari itu hubungan Heera dan Youngbae semakin dekat. Heera selalu tersenyum setiap Youngbae datang menjenguk ke kamarnya. Mereka bersenda gurau dan Youngabe akhirnya membiasakan diri berbahasa isyarat dengan Heera.

Heera mengajari Youngbae bahasa isyarat agar mereka bisa saling berkomunikasi. Heera bukan lagi pasien bagi Youngbae, hubungan mereka benar-benar seperti sahabat lama.

“Oppa benar-benar menjadi sahabat bagi Heera. Sebagai kakaknya dan mewakili keluarga aku mengucapkan terimakasih,” Lee Chaerin menyatakan hal itu saat Chaerin dan Youngbae sedang makan siang bersama sambil membicarakan mengenai perkembangan Heera.

“Jangan begitu, aku hanya menjalankan tugasku saja,” Youngbae merendah. “Hm, kenapa waktu kita masih di SMA aku tidak pernah tahu kalau kau mempunyai adik?” Youngbae dan Chaerin memang berasal dari SMA yang sama. Youngbae merupakan senior Chaerin dan mereka cukup dekat hingga Chaerin menyebut Youngbae sebagai oppa-nya.

“Mungkin karena kami bukan saudara kandung dan Heera tidak mau mengganti nama keluarganya jadi tidak banyak yang tau kalau aku mempunyai adik. Selain itu saat kita SMA, Heera tidak tinggal di Korea, dia meneruskan SMA ke Perancis,” Chaerin menjelaskan.

“Jadi dia bersekolah di Perancis? Dia masih bisa bicara saat itu?” Youngbae terheran-heran.

Chaerin  menggeleng. “Heera terakhir bicara saat pernikahan orang tua kami. Saat itu dia hanya menyebut ‘butakhae eomma’ “

“Butakhae?” Youngbae mengulang perkaatan Chaerin.

“Ya, kejadian itu kira-kira lima belas tahun yang lalu saat Heera usia tujuh tahun dan aku delapan tahun. Setelah hari itu tiba-tiba saja Heera berhenti bicara. Tadinya eomma pikir itu hanya bentuk protes Heera dan berlangsung sebentar. Eomma salah karena sejak hari itu Heera menjadi bisu,” Chaerin menceritakan segalanya dan membuat titik-titik air mata mengallir keluar dari mata kecilnya yang sendu.

“Chaerin-ah,” Youngbae mencoba menenangkan.

“Selama di Paris Heera berlaku biasa saja. Dia jarang bicara namun setiap ada tugas yang mengharuskannya bicara pasti dia melaksanakannya. Eomma yang mengetahui tentang hal ini langsung marah. Aku dan Appa yang meskipun bukan keluarga kandung Heera bisa merasakan sakit yang eomma rasakan. Maka itu, Appa dan Eomma akhirnya memutuskan untuk membawa Heera ke sini,” Chaerin kembali melanjutkan dan kini dia mulai bisa mengontrol dirinya.

“Aku mengerti sekarang. Mungkin Heera begitu karena tekanan yang begitu berat dan dia hanya ingin menunjukkannya pada keluarga kalian,” Youngbae menggengam tangan kanan Chaerin yang tergeletak bebas di atas meja makan , “kuharap kau mau membantuku untuk mengembalikan senyum dan suara Heera” Chaerin gugup menerima perlakuan Youngbae dan dia hanya bisa mengangguk.

Sementara itu di luar restoran itu ada seseorang lain yang sejak tadi memperhatikan kejadian itu dengan seksama. Wajahnya menjadi sendu. Terakhir setetes air mata jatuh menyentuh pipi putihnya yang memerah karena udara Seoul yang semakin dingin dari hari ke hari.

~~~ ~~~

Lee Chaerin’s

JANUARY

Natal dan tahun baru telah terlewati tanpa hal berarti. Heera sudah keluar dari rumah sakit. Meski begitu Youngbae tak pernah absen mendatangi rumah keluarga Lee dan memeriksa keadaan Heera. Semakin intens pertemuan Heera dan Youngbae diimbangi pula dengan semakin dekatnya hubungan Chaerin dan Youngbae.

Mata sendu milik Chaerin yang dia miliki sejak ayah dan ibunya bercerai lebih dari lima belas tahun yang lalu kini telah sirna. Perlahan mata sendu itu berganti dengan binary kasih yang bagai matahari hangat di tengah badai salju yang menghempas.

Semua itu hanya karena satu sosok yang sudah lama diimpikannya untuk hadir kembali dalam kehidupannya. Dong Youngbae. Seorang senior yang menolongnya ketika semua orang menjauhi Chaerin karena masalah politik ayahnya yang merupakan perdana menteri Korea Selatan saat itu.

Sosok Youngbae begitu heroic hadir dalam hidup Chaerin. Jika ada orang yang paling berjasa sepanjang hidupnya, maka menurut Chaerin orang itu pastilah Dong Youngbae.

Mencintai Youngbae adalah nafas hidup Chaerin selama ini. Youngbae merupakan alasan kedua Chaerin masih tetap bertahan hidup di dunia. Alasan pertamanya tentu saja adalah Choi Heera, adik tiri yang sudah disayanginya seperti saudara kandung.

Mengagumi Youngbae adalah hal yang selalu dilakukannya sejak dulu. Kini, Chaerin memutuskan untuk mengakhiri segalanya. Chaerin tahu cinta itu butuh dibuktikan bukan hanya dipendam. Dia ingin Youngbae juga mengetahui perasaannya selama ini.

Hari itu seperti biasa Youngbae datang untuk memeriksa Heera. Chaerin menyambut kedatangan Youngbae dengan suka hati. Menatap wajah penuh senyum ramah itu sangat menyejukkan hatinya.

“Oppa sudah datang?”

“Ne, bagaimana keadaan Heera hari ini?”

“baik.. tapi dia masih belum mau bicara,” Chaerin tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang nampak jelas dari raut wajahnya.

“Sabarlah, dia pasti akan sembuh sebentar lagi,” Youngbae memegang kedua sisi bahu Chaerin dengan tangan-tangannya yang besar. Chaerin masih menemukan kehangatan yang sama seperti dulu saat Youngbae menenangkannya di masa SMA.

“Arraseo oppa, kuharap itu semua cepat terjadi,” Chaerin menyeka airmata yang untuk kesekian kalinya turun bagai rintik-rintik hujan..

“Okay, now I’m going to see your sister then, I’m going upstairs, ne?”

“yes, you should do that asap! I will make a drink for you, go!” Chaerin membimbing Youngbae ke arah tangga lalu segera berjalan menuju dapur dan menyiapkan minuman.

Kurang beberapa langkah lagi menuju kamar Heera, Chaerin mendengar suara yang tidak lazim keluar dari kamar yang selalu sepi itu. Chaerin bergegas mempercepat langkahnya. Perlahan dia membuka pintu kamar itu berharap kedua orang di dalamnya tidak menyadari kedatangan Chaerin.

Demi apapun yang menciptakan keajaiban, apa yang kini tergambar jelas di manic hitam mata Chaerin adalah sebuah mukjizat. Heera yang selalu membisu kini tertawa lepas bersama Youngbae. Belum ada sepatah katapun keluar dari mulut itu memang, namun tawa lepas Heera adalah sebuah oase di padang gurun. Tak pernah sekalipun Chaerin mengira akan bisa melihatnya.

Bahagia meliputi perasaan gadis itu saat ini. Tangan-tangan Heera bergerak menjadi alat komunikasi utama antara Youngbae dan Heera. Tawa mereka kembali meledak. Heera menatap penuh arti pada Youngbae. Youngbae pun sebaliknya. Tatapan tulus dan kasih yang tidak pernah Chaerin dapatkan ternyata diberikan Youngbae pada Heera.

“Jangan… kumohon jangan…” Chaerin berbisik perlahan. Dia mulai menyadari satu hal, Youngbae mencintai Heera dan Heera mencintai Youngbae. Dia hanyalah seseorang tak berarti yang dalam drama mungkin akan menjadi tokoh antagonis penyebab konflik.

Kini tak hanya ada perasaan bahagia dalam rongga-rongga hati Chaerin. Tak bisa dipungkiri, sedikit atau mungkin banyak perasaan cemburu dan ketakutan menyelimuti kebahagiaan itu bak awan mendung yang menutupi cerahnya langit biru.

Sejak itu tidak pernah ada yang sama lagi di antara mereka bertiga.

FEBRUARY

Hari ini ulang tahun Chaerin. Youngbae datang dan penuh kejutan mengingat hari bahagia gadis itu.

“Saengil chukae Chaerin-ah” ujarnya sambil memberikan sebuket mawar dengan bunga lili putih di tengahnya.

“Youngbae oppa….” Chaerin terkejut. “Jeongmal gomawoyo…” Youngbae tersenyum melihat reaksi Chaerin.

“Teruslah tersenyum seperti ini Chaerin. Kumohon. Heera telah lama kehilangan senyumanmu, hingga akhir-akhir ini dia menjadi gundah,” Youngbae kemudian bicara tanpa merasakan perubahan nyata dalam sinar rupa Chaerin.

“oppa….” Chaerin berbisik sedih. “Aku pasti akan terus tersenyum,” akhirnya Chaerin memutuskan untuk mengatakan hal tersebut dan memasang senyum paling palsu yang pernah ada dalam kamus hidupnya.

Youngbae turut tersenyum. Dia memeluk Chaerin seolah ingin meluapkan kebahagiaan bersama. Pelukan hangat itu terjadi begitu saja dan bisa membuat mata siapapun yang melihatnya menjadi salah tangkap.Dua orang yang sejak tadi mengamati mereka ternasuk ke dalamnya. Heera dan ayah mereka, Lee Kijin.

Chaerin mengurai pelukan itu.

“Oppa, mau jalan-jalan sebentar denganku? Lagipula Heera masih tertidur..” ajak Chaerin berdusta.

“Begitukah? Baiklah kenapa tidak? Inikan hari ulangtahunmu, kau harus mentraktirku kalau begitu,”canda Youngbae.

Mereka berduapun pergi bersama dan Kijin menghantar mereka dengan senyumanya. Akhirnya anakku menemukan belahan jiwanya. Kijin tersenyum bahagia.

~~~ ~~~

MARET

Choi Heera’s

Heera mencintai Youngbae disaat yang sama ketika Chaerin merasakan perasaan yang sama untuk pria itu. Heera menyayangi Chaerin seperti kakaknya sendiri. Heera tak bisa keluar dari hubungan rumit ini.

“Apa… apa…” Heera merintih di malam hari tatkala ia tinggal sendiri di kamarnya dan seluruh keluarganya sudah tertidur.

Sakit yang Heera rasakan kini beribu-ribu kali lebih dalam jika dibandingkan dengan apa yang menimpanya lima belas tahun yang lalu. Kedua orangtuanya bercerai. Ayahnya mati ditembak di depan matanya. Ibunya menikah lagi dengan pria yang tak dikenal Heera sama sekali. Ia mendapat seorang kakak tiri yang menjadi primadona ibunya dan merampas seluruh perhatian wanita itu.

Segala penderitaan itu tak seberapa. Heera memilih membisu hingga saat ini hanya karena dia takut bernasib sama dengan ayahnya. Ditinggal isteri, ditinggal anak, hingga akhirnya tewas tertembak di hari natal yang dingin.

Ayahnya kehilangan segalanya karena terlalu banyak bicara. Mengumbar segala kebusukan yang terjadi dalam tatanan pemerintahan Korea saat itu. Mulutnya tak henti meneriakkan sebuah gerakan reformasi rakyat. Heera menjadi saksi akan semua kejadian itu.

Heera belajar dari pengalaman itu dan memilih untuk menjadi bisu karena ketakutannya sendiri. Dia tidak ingin suaranya menjadi maut yang kelam untuknya. Dia tidak ingin ditinggal oleh ibunya ataupun orang-orang lain yang berharga baginya.

Kini Heera menyadari kesalahannya. Tidak semua diam itu berarti emas. Karena kebisuannya itu, dia justru akan kehilangan orang yang telah membuat hidupnya menjadi berwarna. Dong Youngbae.

Pikirannya melayang pada kejadian tadi pagi.

“Ini undangan siapa Appa?” Chaerin bertanya pada Kijin ketika dia melihat sebuah undangan pernikahan berwarna putih bersih tergeletak di meja tamu.

“Bacalah…” perintah ayahnya.

“Dong Youngbae?” Chaerin membaca.

Seketika itu juga dada Heera bergemuruh. Dia bisa mendengar dengan jelas karena Heera sedang bersantai di ruang keluarga yang hanya di batasi almari kaca berisi berbagai foto keluarga.

“Dong Youngbae?” sekali lagi Chaerin berucap tak percaya.

Dada Heera semakin bergemuruh. Segala hal yang dia takuti selama ini menjadi kenyataan. Youngbae akan meninggalkannya. Youngbae akan menikah dengan wanita lain dan wanita yang beruntung itu adalah…

“Lee Chaerin?” Chaerin kembali berucap tak percaya. Undangan berbentuk hati dengan ukiran manic emas itu terjatuh dari tangan Chaerin. Heera bisa memastika bahwa hatinya kini sedang patah berkeping-keping.

Menangis tiada guna bukankah Youngbae tidak akan kembali lagi padanya. Lagipula Youngbae akan menikah dengan kakaknya sendiri. Apa pantas Heera marah dan kesal? Tidak.

“Apa… apa…” Heera merintih kesakitan lagi. Dadanya sesak. Kamarnya kini begitu temaram seperti hatinya yang penuh kelabu.

Oppa… buttakhae, eonni…. Buttakhae…” Heera mengelus undangan yang kini ada di dekapannya. Tangannya menelusuri setiap Hangeul yang bertuliskan nama Youngbae dan Chaerin.

Oppa…. Saranghae…” Heera berbisik kecil menahan tangis yang sejak tadi tak mau berhenti mengalir.

“Bagaimana menurutmu dengan gaun yang ini?” Chaerin bergaya di depan cermin besar menunjukkan keelokan badan dan gaun pengantin yang dipakainya saat ini.

Heera mengangguk dan tersenyum getir.

Bukankah seharusnya itu adalah aku? Bukankah seharusnya yang sedang memilih gaun itu aku? Waeyo eonni?

Heera hanya bisa berteriak dalam hatinya.

“Tapi model yang ini terlalu mewah, aku tidak suka,” Chaerin memberi pendapatnya sendiri.

“Apa menurutmu Youngbae akan menyukainya? Kami kan dijodohkan, aku benar-benar buta tentang gadis seperti apa yang diidamkan oleh Youngbae,” Chaerin menyampaikan kegundahan hatinya. Dia duduk disamping Heera yang memperhatikannya sejak tadi.

Heera menggeak-gerakkan kedua tangannya membentuk sebuah kalimat.

“Jadi menurutmu Youngbae pasti menyukaiku?” Chaerin bertanya memastikan.

Heera mengangguk dan sekali lagi memasang senyum getirnya. Sulit bagi Heera untuk memberika senyum tulus di saat hatinya benar-benar gundah gulana.

Chaerin memeluk Heera erat.

“Gomawoyo Heera-ah… jeongmal gomawoyo…” Chaerin bicara tertatih-tatih karena kini air mata mengalir tak mau berhenti membasahi pipinya.

Heera membalas pelukan itu dan ikut menangis terisak.

MEI

The Wedding

Chaerin sudah berdandan cantik bak malaikat turun dari Surga. Youngbae juga sudah hadir dan menunggunya di depan altar. Senyum yang dipaksakan terpampang jelas di wajah pria itu. Jika bukan karena kepentingan politik keluarganya, Youngbae lebih memilih kabur dan membawa Heera lepas dari kenyataan bahwa hingga saat ini Youngbae belum tahu perasaan gadis itu padanya.

Mata Youngbae dengan seksama mencari ke segala sudut Gereja mencari sosok Heera. Nihil. Tak ada tanda-tanda kehadiran Heera di pernikahan ini. Kemana kau Heera? Youngbae menjadi cemas.

Organ sudah berbunyi. Paduan suara mulai bernyanyi melantunkan lagu “Wedding March” gubahan musikus genius, Mozart. Chaerin melangkah masuk ke dalam Gereja bersama dengan Lee Kijin.

Youngbae menatap nanar ke arah gadis itu. Bukannya tidak tahu, Youngbae menyadari bahwa selama ini Chaerin menyimpan rasa padanya, tetapi hati tak bisa diatur. Youngbae telah memberikan segenap hatinya pada Heera tanpa terkecuali.

Chaerin menatap Youngbae yang berdiri di depan altar menanti dirinya. Chaerin berharap sampai saatnya nanti dewi fortuna tetap memihak padanya. Chaerin berharap kebahagiaannya ini akan terjadi untuk selamanya.

Tuhan ampuni aku

Heera maafkan aku

Youngbae, belajarlah untuk mencintaiku

Chaerin berdoa dalam hati.

Sesampainya di altar, Youngbae dan Chaerin siap untuk mengikrarkan janji sehidup semati. Janji suci yang hanya akan sekali mereka dengungkan sampai akhir hayat dan maut memisahkan.

Baru saja Pastor akan memulai ekaristi kudus itu, sesosok wanita dengan dandanan aneh dan pakaian tak wajar masuk ke dalam Gereja megah itu.

“Eonni….” Teriaknya.

Hampir seluruh mata kini menatap wanita itu.

“Heera…” Youngbae dan Chaerin memekik hampir bersamaan.

Heera melanjutkan perjalanannya menuju altar. Wajahnya penuh makeup yang berantakan. Rambut panjangnya terurai mengerikan seperti tak pernah disisir dan dirawat. Gaun putihnya bak gaun Cinderella yang sudah koyak dan rusak. Matanya menatap sendu lurus ke altar.

Eonni… buttakhae,” ujarnya tertahan. Keheningan di dalam Gereja membuat rintihan itu begitu terdengar dan menggema laksana kerikan domba yang akan dikurbankan.

Eonni… buttakhae,” Heera terus mengucapkannya.

Kang Yubin, ibunya hanya mampu terisak. Memori luka di hari pernikahannya terbuka lagi. Saat itu dia hanya bisa menatap dingin ke arah Heera yang juga menyerukan permohonan padanya.

Eonni buttakhae…” Heera kini sudah sampai di depan Youngbae dan Chaerin.

Eonni buttakhae…” Heera memeluk Youngbae yang masih membeku karena terkejut atas aksi yang dilakukan Heera.

Heera menganggapnya sebagai penolakan.

Diapun segera melepas pelukan itu dan menatap ke arah mereka berdua.

“Eonni chukaeyo…” bisiknya pelan.

Plak.

Chaerin menampar Heera. Sedetik kemudian ia berteriak dan menyeret Heera keluar dari Gereja. Chaerin membawa Heera ke ruang ganti di mana kamar mandi berada.

“Kau pikir aku apa? Setan?” Chaerin menyalakan kran shower dan membasahi seluruh tubuh Heera.

“Ya aku memang setan!” Chaerin memekik. Tangannya menampar sekali lagi wajah Heera kemudian melakukan gerakan di sekitar wajah Heera.

Tak puas dengan itu Chaerin menyeret Heera lagi dan kini merendamnya dalam bath tub. Tubuh Heera meronta. Bibirnya terus menyebutkan kata “buttakhae eonni” seolah kata itu adalah sihir yang bisa membuat Chaerin mereda.

Tangan Chaerin masih sibuk menghapus make up aneh di wajah Heera.

“Kau menyukainya! Kau mencintainya! Tapi kau sudah melewatkan kesempatan untuk mendapatkannya! Kau sekarang menghancurkan hidupku Heera! KAU MERUSAKNYA!” Chaerin masih belum bisa mereda amarahnya.

“Aku juga merasakan sakit Heera… sakit…” kini Chaerin melunak dan luluh. Batinnya yang tertekan kini kembali bernapas. Tenaganya habis dan akhirnya Chaerin hanya terduduk lemas di sisi bath tub.

Heera mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Heera berdiri dan keluar dari bath tub. Dia memeluk Chaerin.

“Mianhaeyo eonni… jeongmal mianhae…” Heera terisak. Bukan ini akhir yang diinginkannya. Heera hanya ingin memeluk Youngbae untuk yang terakhir kali. Hanya itu.

“Tidak perlu minta maaf Heera… kau tidak bersalah, aku tidak bersalah, Youngbae juga tidak. Cinta itu tidak pernah salah Heera…” Chaerin menyeka air matanya.

“Keringkanlah badanmu… setelah itu aku akan menunjukkan padamu apa itu keajaiban!” ujar Chaerin.

~~~ ~~~

JANUARY

Dong Youngbae’s

Sudah hampir setahun Youngbae menjalani bahtera rumah tangga dengan Choi Heera. Cinta mereka dipersatukan oleh seorang cupid kecil bernama Lee Chaerin.

“Heera..” Youngbae memanggil isterinya itu.

“Ne…” jawab Heera sambil keluar kamar dan menemui Youngbae di taman belakang rumah mereka.

“Kau tahu Heera suaramu itu semerdu kicauan burung pipit di pagi hari…”

“Begitukah?”

“Ya, harusnya kau bicara sejak dulu..”

“Apa dengan begitu kau akan menjadi milikku juga seperti saat ini?” Heera bertanya.

“Entahlah, tapi aku pasti tetap akan memilihmu…”

“Kau tahu, Chaerin eonni benar-benar menunjukkan keajaiban padaku. Dia menyihirku menjadi wanita paling cantik di hari itu. Dia memakaikan gaun pernikahannya padaku. Dia membawaku masuk kembali ke dalam gereja….”

“dan membawamu padaku, pada takdirmu? Ia kan? “ potong Youngbae. “Aku tidak akan pernah melupakan hari itu. Hari dimana kau menjadi milikku. Hari di mana aku menyadari bahwa kau memang alasan aku bernapas hingga saat ini.”

“Kalau begitu, kau harus berterimakasih pada eonni-ku” Heera merangkul Youngbae.

“Kau tahu aku sudah melakukannya. Bahkan aku melakukan yang lebih dari pada hanya sekedar berterimakasih,” bisik Youngbae sambil mengelus surai rambut Heera.

“Apa itu oppa?” tanya Heera penasaran.

~~~ ~~~

Chaerin sedang berada di pulau Nami. Dia datang ke sini karena Youngbae memberikan padanya tiket liburan sebagai ucapan terimakasih atas segala yang telah Chaerin lakukan untuk Youngbae dan Heera.

Chaerin menganggapnya sebagai sarana untuk melupakan rasa penat dan sakit hatinya. Dia tidak ingin terus terpuruk dalam kesedihan. Dia sudah memutuskan untuk menyatukan Youngbae dan Heera maka tidak ada alasan lagi untuknya memisahkan dua manusia itu.

“Ini dia kamarku…” Chaerin berdecak karena sejak tadi sulit menemukan kamar villa yang dimaksud Youngbae dalam tiket wisatanya ini.

Ketika Chaerin akan memasukkan kunci villa itu untuk membuka pintunya, ada seorang lain yang juga melakukan hal yang sama.

“Maaf..” ujar Chaerin sambil menengadah untuk melihat wajah orang yang mengganggunya itu.

“KAU!” Chaerin memekik.

“KAU!” pria itu sama kagetnya dengan Chaerin.

“KWON JIYONG!”

“LEE CHAERIN!”

“KAU!” mereka berteriak bersamaan. Sedetik kemudian nama yang sama keluar dari mulut mereka, “DONG YOUNG BAE!!!”

~~~ ~~~

“Oppa… beritahu aku, apa yang kau berikan pada eonni?” Heera merajuk.

“Kau sungguh ingin tahu?” Youngbae menggodanya.

“Oppa..” Heera kembali merajuk.

“Baiklah.. aku hanya memberi kesempatan pada Chaerin untuk mengenal laki-laki lain yang lebih baik daripada aku. Kau ingat Kwon Jiyong?”

“Kwon Jiyong?” Heera mencoba mengingat-ingat nama itu.

“Model yang adalah sepupumu itu?” tanya Heera.

“Ya, aku mengirimkannya untuk Chaerin. Hahaha..”

“OPPA!” Heera berteriak tiba-tiba.

“Ada apa?” seru Youngbae tak kalah kaget.

“Kau benar-benar tidak tahu?” Heera bertaya memastikan.

“tahu apa?” Youngbae bingung.

“Kwon Jiyong adalah musuh besar eonni! Mereka satu fakultas dulu di UCLA dan mereka tidak pernah rukun bahkan hingga mereka bertemu lagi di Korea karena pekerjaan,” Heera menjelaskan.

“Ohya? Bagus kalau begitu. Jadi, Chaerin bisa merasakan sensasi bertemu teman dan musuh lama kan?” ujar Youngbae.

“Oppa…” Heera berseru marah.

FINISH ^___^

author’s :

thanks to my beloved BEG who sang good on “Cleansing Cream” then to my beloved eonni “Teeka eonni” sorry i’m late ~~~
thanks for my readers too ~~ thanks to you all ^__^

ohya i have a new inet name for all my stories “Sorayong” sora is sky in Japannese and yong is dragon in korean.. so, when you read “Sorayong” that must be me kekeke

^___^

then, uhm… RCL are loves as always :) 

16 thoughts on “[Taeyang-OC] [SunSky] I Love You My Eonni Hubby

  1. kyaaaaaaa……tetep ye ujung’y SkyDragon eh, SoraYong??! eniwei, makasih ya cantik….aq terharu (sambil mbayangin apa rasa’y punya suami YoungBae:-*)
    LeeChaeRin kewrennn!! mau pnya kk bgtu… special ‘treatment’ bwt HeeRa pasca nongol di wedding itu part paling keren, diakhiri dgn “aku akan menunjukkan padamu apa itu keajaiban” … ChaeRin daebak!!
    gud job, adek…skali lg makasih! ditunggu kisah laen’y…fighting!!

    • ne eonni ^___^ thanks juga udah mau baca… ntah kapan komputerku akan membaik dan kembali menyala sehingga bisa memposting another story of Heera-Youngbae ^.^
      sekali lagi thanks udah mau baca eonni🙂

  2. kyaaa… Ssekar.. Q udh mau nangis tadi pas bagian wedding..😥 q kira heera bakalan meninggal habis prolog nya cintanya d makan darah si.. Bener2 gak bisa d tebak😀 daebaaaaakk😄 kasian juga chae bertepuk sebelah tangan.. Wah daebak lah pokonya tetep ya akhirannya Skydragon a.k.a SoraYong nyahaha😄 wahh mesti lanjut neh.. Sekuelnya yah yah yah..😄 keren.. Klo gk sibuk bikin lagi yaaa hehe😄

  3. “Kenapa kita harus
    memasangkan cinta dengan
    jatuh. Apakah sesakit itu
    merasakan cinta? Apakah
    merasakan cinta sama sakitnya
    dengan ketika kita terjatuh?
    Bagiku tidak. Aku benar-benar
    bahagia sekarang!”
    suka b.g.t sm klmat yg ini
    author kyaaaaaa. . . . . #jejeritanbrengboss
    Daebak bkin cratany smpah sgt2 bewarna >.< ak suka
    kata2ny kiasanny de es be slam knal thor ^^ ak k'sni dg keyword fanfic taeyang n lngsung d'tntun k'sni :3

    • halo halo reader baru ^_^~ thankyou for your comment ya ~~ oh kata-kata itu toh /kekeke/ patut diberikan beribu terimakasih pada Clara Ng yang mengajarkan ku banyak teknik analogi ^^

      wah… mbah gugel menuntunmu kesini?? keren ^^~

  4. awwwwww yang ini juga bagus banget❤
    aku bacanya sedih T^T
    huhu,, aku bakal benci chaerin kalo ampe dia ngebiarin rasa egonya menang.
    untung dia berusaha ngelawan rasa egonya dan biarin heera yang nikah ama youngbae..
    kalo gak dia bakal jadi manusia yang paling egois dan jahat…
    lagian..
    youngbae orang yang bikin heera bisa kembali lagi ke dirinya yang dulu..

    ahhh.. cerita ini bener2 bagus…….. aku sukaaaa bangettt…

    eh? kok tiba2 di akhir ada jiyong?? ahahaa apakah skydragon yang bakal muncul di sequelnya?? WOOOOOO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s