[SKYDRAGON][CONT.] When Love Comes Over (chap.3)

Title : When Love Comes Over

Length :  Series

Casts :GD
CL
TOP
Yang-Hyunsuk

Disclaimer : ILAKIS_SEKAR ©ALL RIGHT RESERVED
ALL CASTS HERE ISN’T MINE EXCEPT THE OC’s!
ALL PARTS OF THIS STORY IS MINE ! PLEASE DON’T COPY AND RE-POSTING WITHOUT
MY PERMISSION!  NO PLAGIARISM!

happy reading————————————————————————————————————————————

Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku mendengar dengan telingaku sendiri. Aku merasa dengan hatiku sendiri. Salahkah hatiku ini?

“Jiyong… apa kau baik-baik saja?” Seunghyun-hyung bertanya padaku. Tumben sekali hyung memperhatikanku. Biasanya yang ada dibenaknya hanya Hyorin, kekasihnya atau juga Daesung , hobae kesayangannya.

“Memangnya aku terlihat tidak baik-baik saja hyung?” tanyaku sedikit ketus. Aku benar-benar muak saat hampir semua orang menanyakan hal yang sama padaku. Sudah sejak pagi aku mendengar pertanyaan itu terlontar dari orang-orang yang kujumpai.

“Kalau kau memang memiliki masalah dengan Jia, bukankah lebih baik dibicarakan dulu. Jangan gegabah dan langsung memutuskan hubungan begitu saja,” Akhirnya kata-kata yang sepertinya sejak tadi tertahan keluar juga dari mulut Seunghyun-hyung.

“Hyung, aku mengerti tapi semua bukan karena masalah apapun… Semua ini juga diluar kemauanku. Saat salah satu diantara pasangan sudah tidak lagi merasakan getaran itu masihkah sebuah hubungan harus dipertahankan?”

“Bukankah hubungan sepasang manusia juga adalah sebuah komitmen?”

“Komitmen? Apa sebenarnya komitmen itu hyung? Apakah berpacaran pun membutuhkan sebuah komitmen?”

“Kau tidak membutuhkan komitmen Jiyong? Kalau aku sangat membutuhkannya. Lewat komitmen itu aku belajar untuk selalu menjaga kesetiaan pada cinta yang kupercayai”

“Bukankah kesetiaan lahir karena rasa cinta ?”

Seunghyun-hyung menepuk pundakku tak begitu keras. “Ya! Sampai kapan kita akan berdebat tentang cinta, kesetian dan komitmen Kwon Leader? “ gelak tawa segera menyatu diantara kami berdua.

Puas tertawa aku menghela nafas dan sesudahnya berkata pada hyung inti permasalahan putusnya hubunganku dengan mantan kekasihku, Jia yang terjadi kemarin sore, “Aku rasa seeorang lain telah merampas seluruh hatiku hyung! Jika dulu Jia mengambil separuh nafasku, maka gadis yang satu  ini telah merampas seluruh oksigen yang masuk dalam tubuhku..”

“So, you have just found your beautiful hangover ha?” Seunghyun hyung tertawa lagi. Aku hanya mendecak heran pada laki-laki bertampang garang dengan tawa yang sungguh diluar akal sehat manusia. Sungguh tidak match sama sekali!

Karena muak mendengar tawa Seunghyun hyung, aku pun pergi keluar meninggalkannya sendiri di studio recording. Malas aku meladeninya untuk kali ini.

~ting…ting…ting…

Dentingan piano mengalun. Ini dia lagu yang selalu menghiasi mimpi malamku. Lagu yang menghempasku pada kenangan sekian tahun lalu. Kenangan akan sesosok gadis kecil berpengetahuan luas. Kenangan tentang sesosok gadis kecil yang membawa alam bawah sadaarku untuk selalu mengingatnya hingga kini.

Dentingan piano itu makin terasa menyayat hati, membelah jantung dan menikam setiap aortanya dengan sebuah kepahitan bernama kematian. Lagu ini, lagu kematian yang dibuat Mozart sebelum ajal menhemputnya. Lagu ini, Requiem.

Aku masuk ke dalam ruang musik, asal suara itu terdengar. Dua bola mataku hampir saja lepas dari tempatnya. Aku sungguh kaget melihat gadis yang memainkan piano itu. Kesepuluh jarinya menari linah di atas toots piano melayang membelah cakrawala nada, memberi pilu menancap hingga ke ulu hati.

“Chaerin-ah…” sebutku memanggil gadis yang bermain piano itu.

Seketika itu juga jari jemarinya seakan kembali ke daratan. Permainan indahnya terhenti. Jiwa gadis itu kebali lagi ke tempat yang seharusnya. Chaerin, aku benar-benar masih belum bisa percaya kalau gadis itu adalah Chaerin.

“Jingyo oppa..” ujarnya sambil membungkuk memberi salam.

“Kau sedan gap..apa?” aku bertanya terbata.

“Oh.. ini aku sedang rindu dengan eommaku. Eomma sedang pergi ke Perancis, jadilah aku bermain piano agar tidak terlalu merindukan eomma…” ujar Chaerin sambil menyunggingkan senyum indahnya.

“Lagu tadi…” aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku.

“Ne? Lagu tadi oppa tahu? Itu lagu requiem yang dibuat Mozart, komponis music klasik yang terkenal…” Chaerin bicara penuh semangat sementara aku hanya terdiam memperhatikannya.

“Tadi itu bagian mazmurnya, jadi masih sedikit membawa suasana duka duniawi. Oppa pernah mendengar lagu ini sebelumnya?” lanjut Chaerin lagi. Aku masih terdiam tidak percaya.

Entah karena berpikir aku sangat antusias atau justru karena dia tidak memperhatikanku, Chaerin melanjutkan ucapannya, “Mozart membuat requiem ini dengan penuh penghayatan, mungkin dia seperti ingin membuat lagu kematian untuk dirinya sendiri… agar dia bisa pergi dengan damai.”

Deg…

Jantungku berhenti berdetak. Kata-kata itu masih bisa kuingat dengan jelas kata-kata itu.

“Chaerin-ah dari mana kau dapat kata-kata itu?” tanyaku memburu.

Chaerin hanya kebingungan melihat tingkahku, “Itu  kudapat dari sini…” dia menunjuk pada dadanya. “Hatiku seperti merasakan apa yang ingin Mozart sampaikan…” sambungnya. Maka akupun semakin tercengang.

*** ***

“Apa maksudmu Jiyong?” tanya Yang-Sajangnim sedikit menaikkan volume suaranya. Aku bisa maklum, ini adalah berita yang cukup besar dan mengagetkan untuknya.

“Maksudku bukankah sudah jelas Sajangnim, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku menyukai … oh bukan aku mencintai Lee Chaerin. Aku ingin meminta ijin dulu dari Sajangnim agar dibolehkan mengatakan ini padanya…” ujarku mencoba meredam amarah Yang-Sajangnim.

Bisa kulihat wajah Yang-Sajangnim melembut sedikit, mungkin beliau sudah tidak sekaget tadi saat aku pertama datang ke sini dan menyampaikan maksudku. Tak lama kemudian senyum teruntai di wajahnya. Senyum simpul khas Yang-Sajangnim yang bisa membuat siapapun merinding dibuatnya.

“Kau bilang kau mencintai Chaerin kan Jiyong?” tanya Yang-Sajangnim dan aku hanya mengangguk.

“Kau rela melakukan apapun untuknya?” sekali lagi aku hanya mengangguk.

“Kalau begitu tunggu empat tahun lagi. Tunggulah hingga ulang tahun Chaerin yang ke-24. Jika kau sanggup menunggu hingga waktu itu tiba, maka aku tidak akan meminta apapun lagi,” kata-kata Yang-Sajangnim mengalir begitu saja. Mematahkan segala keberanian yang sejak tadi kukumpulkan. Kali ini ketakutan menyerangku, masihkah aku bertahan berdiam dengan cintaku selama empat tahun.

Seperti bisa membaca pikiranku Yang-Sajangnim bicara, “Kalau memang sebelum jangka empat tahun kau menemukan gadis yang lebih baik dari Chaerin aku tidak akan pernah mengungkit masalah ini. Percayalah padaku.”

Aku hanya mengangguk dan mencoba mempercayai apa yang menjadi kepercayaan sosok di depanku ini.

-TBC

A/N : Hallo semuanya.. setelah sekian minggu hiatus aku balik bentar nih buat menyelesaikan FF Skydragon pertamaku.. hayo hayo masih pada inget ceritanya gak?? kekeke

Bocoran aja… FF ini tinggal kurang satu chapter lagi yang insyaallah bisa kuposting hari ini (plg cepet) atau rabu besok (paling lama) hehehe ammin ^^ keep comment ya … gomawo *bow*

8 thoughts on “[SKYDRAGON][CONT.] When Love Comes Over (chap.3)

  1. huawaa kok pendek sihh..
    #kebanyakan protes
    keren deh, ternyata anak kecil yg ketemu jidi itu si Charein,,
    bakal tetep setia ampe part terakhir,,
    semangat thor🙂

  2. ahh bener kan itu chaerin XD/
    yay! jiyong kalo bener2 cinta dia pasti akan nunggu meski harus seratus tahun lamanya.. hehehe.. bagus banget cerita ini…
    crita cinta yg dipadukan dlm musik klasik.. LOVE it❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s