[SKYDRAGON][CONT.] When Love Comes Over (chap.1)

Casts :  -Lee Chaerin
-Kwon Jiyong
-Yang Hyun-Suk
-TOP
-Lee Seunghyun

-Chaerin-

“Huam….” Aku menguap… ini sudah malam dan aku belum juga menyelesaikan draft lagu yang diminta Sajangnim (presiden direktur). “Paraparapa… dududu…” aku bersenandung mencoba mencari nada yang pas untuk calon lagu ciptaanku ini. Ah…. Teddy oppa.. aku benar-benar membutuhkanmu sekarang… aku mendumel sendiri dalam hati.

Kreek… Kudengar pintu studio ini dibuka. Aku menoleh untuk melihat siapa yang datang malam-malam ke studio di lantai 6 gedung kantor YG Entertainment ini. “Jingyo oppa….” Aku menyapanya. Jiyong oppa hanya tersenyum, kemudian dia berjalan ke arahku yang saat ini sedang duduk di kursi kerja dekat alat mixing.

“Kau belum pulang Chaerin?” tanyanya padaku.

“Belum oppa.. aku masih harus menyelesaikan bagian rap untuk lagu baruku ini..”

Aro… (aku tahu) .. kerjaan dari Yang sajangnim ya??”

Aku mengangguk membenarkan perkataannya barusan.

“Mau kubantu? Biar lebih cepat selesai….”

“Hua… dengan senang hati… oppa gomawoyo… (terimakasih kak…)”

Setelah itu, kami berdua terlarut dalam kesibukkan membuat barisan-barisan kata. Tempo menderu dari ketukan pena Jiyong oppa di meja kayu ini. Aku menulis sambil mencorat-coret dibeberapa bagian yang kurasa kurang pas.

Aku menikmatinya. Itu yang kurasakan. Aku menikmati setiap kata yang keluar dari mulut Jiyong oppa, aku menikmati setiap ketukan dari jari-jemari dan pena milik Jiyong oppa. Aku menikmati kepeduliannya terhadap bait-bait kalimat yang kubuat. Aku menikmati waktu ini. Aku berharap waktu berhenti berputar sekarang juga.

Finallywe are done… (Akhirnya selesai juga..)” Jiyong oppa berkata sambil menggerakkan tangannya membentuk gerakan Yes! Aku hanya bisa tertawa. Tepatnya lagi menertawakan keinginan bodohku untuk meminta waktu berhenti, karena toh itu tak kan pernah terjadi.

Gomawo oppa… (terimakasih kak..) tanpa oppa, pasti ini akan lebih lama lagi..” aku mencoba meluruskan lagi pikiranku.

“Hunhchae…. Santai saja… aku juga kebetulan sedang tidak ada kerjaan jadi iseng kemari deh.. “ oppa berkata sambil berjalan ke alat mixing. Aku mulai menerka-nerka apa yang akan oppa lakukan.

“Begitukah… memang TOP oppa tidak mengajak oppa keluar malam ini?” aku bertanya.

Mwo ya… (Kau ini…) kami kan ke club hanya kalau ada  job.. di luar itu, aku lebih suka menghabiskan waktu di studio…”

“Masa?” aku menggodanya.

“Jadi kau tidak percaya?” oppa yang sejak tadi sibuk degan mixer sounds, sekarang melihat ke arahku. Aku hanya mendelik dan mengangkat kedua bahuku.

“Oh… baiklah kalau begitu… hem.. kau mau sekalian merekam lagu itu?” Jiyong oppa menunjuk kertas lagu yang kubuat dengan dagunya.

“Tentu.. aku m..” baru akan kujawab ajakan Jiyong oppa, I Phone di kantongku bergetar. Kulihat di layar terpampang tulisan ‘Nae Eomma’. Eomma (Ibu) ku menelepon.

Yeobosseo… (Hallo)”

“Chaerin-ah… kau di mana?? Sudah mau jam sebelas malam dan kau belum datang juga? Ingat pesta kejutan untuk Appa (Ayah) mu harus dipersiapkan dengan baik…” terdengar suara Eomma yang halus dan lembut.

“Oh Jesus.. I totally forget.. Ne (baik) aku akan segera ke sana, Eomma…” Klik. Aku memutus hubungan telepon. Dengan sigap aku segera merapikan beberapa kertas-kertas yang tadi kulempar ke lantai saat proses membuat lagu. Aku juga mematikan netbookku dan memasukkannya ke dalam handbag dari Vintage milikku.

“Chaerin…” Jiyong oppa memanggilku. Astaga, aku lupa kalau sejak tadi aku sedang bersama dengannya.

Ne oppa… mian.. (Ya, kak.. maaf..) aku tidak bisa merekamnya sekarang. Satu jam lagi ulang tahun Appa… aku, Eomma dan Hye Rin akan membuat pesta kejutan untuk Appa. Jadi aku harus segera pulang…” aku menjelaskan pada Jiyong oppa sambil tetap membereskan beberapa barang bawaanku.

Bisa kulihat dari sudut mataku Jiyong oppa mengangguk dan berjalan mendekatiku.

“Kuantar saja kalau begitu… ini sudah larut.. kebetulan tadi dari dorm ke sini aku pakai mobil…” Oppa membantuku mencabut beberapa kabel yang terhubung ke keyboard yang tadi kupakai untuk membuat lagu.

Mwo? (Ha?) Mobil siapa yang oppa pakai?” aku kaget dan menghentikan sejenak kesibukanku.

“Itu mobil punya Seunghyun-hyungnim… Aish.. kenapa kabel ini susah sekali dicabut…” Oppa masih sibuk dengan kabel-kabel itu.

“Oh.. arasso (Aku mengerti) baiklah kalau begitu… sekali lagi terimakasih oppa.. maaf kalau merepotkanmu…”

Anni…(tidak..) aku memang ingin membantu kok.. jadi tidak merepotkan sama sekali..”

Aku tertawa mendengarnya. Selalu begitu.. Dia selalu memperlakukanku seperti itu. Membantuku, menjagaku, melindungiku. Benar-benar ‘oppa’ yang baik. Ya, ‘oppa’ karena dia menganggapku sebagai ‘dongsaengnya’(adik). Phuff… aku menghela nafas.

Wae Chaerin? Gwenchana?(Kenapa Chaerin? Kau baik-baik saja?)” Oppa memergokiku menghela nafas! Omona.. (Oh tidak.)

Aku menggeleng pelan. “Ayo oppa..”

Ne.. Kajja.. (ya.. ayo!) Oppa berjalan menyusulku keluar studio.

*** ***

         -Ji Yong-

Semalaman aku berpikir, mungkinkah Chaerin orangnya? Mungkinkah Chaerin yang selama ini kukenal adalah orangnya? Argh… Aku berteriak sendiri di kamar.

Tok..Tok..Tok..  seseorang mengetuk pintu kamarku.

“Hyung.. kau baik-baik saja?” terdengar suara dari luar. Seungri.

“Hyung…. Buka pintunya, aku mau masuk.. itukan kamarku juga…” Seungri kembali bicara dari luar. Mau tak mau kubuka juga pintu kamar ini.

Wae hyung? Anything happened? (kenapa kak? Ada sesuatu terjadi?)” Seungri mulai ingin tahu. Dia selalu begitu, dan jika sudah begitu mulutku dengan indahnya akan membeberkan setiap permasalahan yang sebenarnya tidak ingin kubagi dengan siapapun.

“Ah… Seunghyun jebal… (Seunghyun.. kumohon…) jangan mulai bertanya-tanya dulu. Lagipula harusnya sekarang kau kan pergi kuliah… kenapa masih di sini?” Aku mendumel padanya.

“Ada diktat yang tertinggal…. Jadi hyung sekarang merahasiakan sesuatu dariku?” Seungri masih saja memaksaku untuk bercerita. Aku pun bersikeras mengunci mulutku. Tidak.. tidak sekarang Seungri.. belum waktunya.

Melihatku yang hanya diam saja diapun mulai bicara,“Okay… I’ll go now.. just phone me when  u’re ready to tell me..huh? (oke..aku pergi, telpon saja kalau sudah siap bercerita!)” Seungri pergi dan aku kembali sendiri.

Setiap sendiri seperti ini yang kulakukan adalah mendengarkan musik. Ada banyak jenis musik yang kusuka, tapi satu yang selalu kudengar sepanjang masa adalah musik kalsik. Karya-karya Bach dan Mozart menjadi favoritku. Menyesuaikan dengan suasana hatiku yang sedang galau kusetel saja Requiem Mozart yang tidak sempat diselesaikan olehnya karena sang maestro sudah meninggal lebih dulu.

“Mozart membuat requiem ini dengan penuh penghayatan, mungkin dia seperti ingin membuat lagu kematian untuk dirinya sendiri… agar dia bisa pergi dengan damai.” Kembali terngiang kata-kata itu dalam benakku. Kalimat itu keluar dari seorang anak berusia kurang lebih 4  tahun. Tak pernah kusangka. Meskipun saat itu aku juga masih kecil sih.. tapi tidak pernah terlintas dipikiranku kalau  Mozart juga menginginkan kedamaian di akhir hidupnya.

Sekarang musiknya sudah sampai di bagian Agnus Dei.. bagian penyembahan pada Tuhan. Aku seperti melayang dan terdampar kedalam kenangan sekian tahun yang lalu.

Saat itu aku masih berumur kurang lebih 7 tahun. Abooji (Ayah) mengajakku datang ke konser 100 tahun mengenang Mozart. Aboji memang penggemar berat karya-karya Mozart. Karenanya, aku sudah akrab dengan banyak karya Mozart sejak kecil.

Aku menikmati konser itu … dan lebih menikmati lagi melihat pemandangan di sampingku. Seorang anak perempuan kecil duduk dan memejamkan matanya. Dia menikmati setiap alunan kedamaian yang terdengar dari Flute Concerto in G. Jari-jemarinya bergerak liar seakan menekan tuts piano di awan.

Wajahnya damai, senyumnya menawan dan penuh ketulusan. Bulu matanya lentik seakan ingin melawan angin. Tiba-tiba saja mimiknya berubah…

“Hey.. kau kenapa melihatku terus?” dia berbisik ke arahku. Aku kaget, tidak menyangka kalau dia tahu aku memperhatikannya.

“Kau lucu…” ucapku sambil tertawa pelan. Lebih tak kusangka lagi saat dia juga ikut tertawa bersamaku. Wajahnya semakin terlihat bercahaya.

“Aku memang begitu kalau mendengar musik klasik.. hihihi…” dia terkekeh-kekeh. Dia benar-benar lucu dan aku semakin tertarik padanya.

Seusai konser kami sempat bicara sebentar. Kebetulan Abooji sedang ke belakang panggung dan aku ditinggalnya sendirian di hall gymnasium park tempat tadi konser berlangsung.

Seseorang mencolek punggungku dari belakang. Aku segera membalikkan badan.

“Hello…” ternyata anak perempuan yang tadi.

Annyeong hasseo (hai..)” aku membalas sapaanya.

“Kau sendirian?” dia bertanya sambil melihat sekeliling. Aku mengangguk. Kini bibirnya membentuk huruf ‘O’ tanda mengerti.

“Kau suka Mozart juga?” kini aku yang memulai topik.

Dia mengangguk-anggukkan kepalanya. Rambut panjangnya yang dikucir dua ikut bergerak-gerak naik-turun. “Aku paling suka Requiem.. kamu?” “Favoritku adalah Mozart Sonata in D Mayor… karena sangat lincah. Kenapa kamu suka Requiem itu kan lagu kematian lagipula musiknya sangat kelam…” kataku pada nya.

Lalu keluarlah jawaban itu. Jawaban yang kupikir tidak mungkin dilontarkan anak seusianya.., “Mozart membuat requiem ini dengan penuh penghayatan, mungkin dia seperti ingin membuat lagu kematian untuk dirinya sendiri… agar dia bisa pergi dengan damai.” Aku terhenyak. Pergi dengan damai? Aigo… dia bukan anak biasa. Pikirannya jauh ke depan dan sangat dalam. Itulah yang membuatku semakin kagum lagi padanya.

foila?… běbě.. (foila.. sayang..)” terdengar suara lembut seorang wanita. Anak perempuan tadi berbalik ke arah suara itu berasal.

měre.. (Ibu).. aku di sini..” dia bicara sambil mengangkat tangannya tinggi ke udara, berharap wanita tadi melihatnya. Segera saja wanita yang kuduga adalah ibu anak itu berjalan mendekati kami.
aejeong (sayangku)… ayo kita pulang..” ujar wanita itu. Dia sekarang sedang berlutut agar matanya bisa tepat menatap anak perempuan itu. Gaun putihnya menyapu lantai dan rambutnya yang panjang terurai dielus oleh anaknya.

Ne Eommajamkkanman (ya ibu… tunggu sebentar)” ujar si perempuan kecil itu. Betulkan dugaanku wanita itu memang ibunya.

“Hei boy.. annyeonghi gaseyo… (hei kau..bye bye..)” dia mengucapkan selamat tinggal padaku, dan setelah itu dia pergi begitu saja. Aku masih termangu menatap kepergiannya. Tunggu  aku lupa satu hal…

“Hei siapa namamu??” aku berteriak hingga beberapa orang yang lewat langsung berhenti dan menatapku. Aku salah tingkah sendiri. Yah… sayang sekali, perempuan cilik itu tidak mendengarnya karena dia sudah masuk ke dalam mobil dan lekas pergi dari pandangan mataku.

Musik dari cd player berhenti mengalun membuatku kembali ke masa kini dan melupakan masa lalu. Entah kenapa runtutan peristiwa itu selalu bisa kuhafal dan kubayangkan, namun bayangan wajah anak perempuan yang menyita perhatianku itu  samar dan tidak terbaca. Aku jadi frustasi lagi dan berteriak “ARGHH…!” kutinju guling di sampingku.

*** ***

         “Jiyong-ssi….” Yang Hyun-Suk memanggil Jiyong yang sedang berdiri di depan lift menunggu pintu box besi itu terbuka.

Annyeong hasseo, Sajangnim..(Hallo pak) ” Jiyong menyapa atasannya itu.

“Tadi pagi Chaerin datang ke ruanganku menyerahkan hasil draft lagunya. Kau membantunya bukan?” kini Hyun-Suk sudah berdiri di samping Jiyong dan mereka bersama-sama menunggu pintu lift terbuka.

Ne Sajangnim… ( Ya Pak..) anda tidak marah kan?” Jiyong tampak kaget karena atasannya yang satu ini tahu tentang perbuatannya.

“No problem… selama kau hanya membimbingnya. Tapi kau harus tahu.. karena bantuanmu itu lagu yang Chaerin serahkan hari ini menjadi lebih berwarna….” Ujar Hyun-Suk penuh semangat.

Pintu lift terbuka dan obrolan mereka terpaksa berhenti sejenak karena ternyata lift sedang penuh. Hyun-Suk mempersilakhan Jiyong masuk lebih dulu. Beberapa orang staff dalam lift itu menyapa Hyun-Suk dan Jiyong.

Ting…lift kini sudah berada di lantai 4 di mana ruang kerja Hyun-Suk berada. Sebelum keluar dari lift Hyun-Suk berpesan pada Jiyong untuk datang ke ruangannya saat jam makan siang.

Jiyong hanya bisa tersenyum dan mengiyakan, namun setelah Hyun-Suk tak terlihat lagi oleh pandangannya, Jiyong segera menghela nafas panjang. Phuff… wajahnya menampakkan bibit-bibit kemalasan dan kemelasan. Hal ini sontak membuat beberapa staff YG yang tersisa di dalam lift tertawa. “Jiyong… Jiyong…” ujar Hanna, salah seorang stylist director di YG  , dia menggeleng-gelengkan kepalanya, Jiyong yang salah tingkah hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal itu.

Jam makan siang tiba dan Jiyong sudah ada di dalam ruang kerja Hyun-Suk. Bosnya yang satu ini memang pecinta warna-warna gothic sampai ruangannyapun dihiasi warna-warna hitam dan abu-abu serta variasi coklat. Sangat gothic. Ckckck… diam-diam Jiyong berdecak dalam hati.

“Duduklah Jiyongie…” Hyun-Suk menyuruh Jiyong duduk di sofa panjang yang terletak dekat meja kerja milik Hyun-Suk.

“Coba dengarkan ini…” Hyun-Suk menyodorkan dua buah kepingan CD dan sebuah player. Jiyong hanya mengikuti instruksi bos besar yang sudah dianggapnya seperti ayah sendiri ini. Segera disetelnya dua CD itu bergantian.

“Apa tanggapanmu?” ujar Hyun-Suk setelah Jiyong selesai mendengarkan.

“Ini milik Chaerin kan? Hm… lagu pertama sangat keren… tapi sedikit menyakitkan dan melelahkan mendengarnya, nuansanya sangat gelap. Benar-benar lagu patah hati. “

“Lalu lagu yang kedua?” Tanya Hyun-Suk lagi.

“Itu lagu yang dia buat dengan bantuanku kan? Hm.. dia bagian awal sampai coda sangat meyayat namun sedikit membius di bagian rap dan akhirnya meskipun itu lagu patah hati namun setelah mendengarnya jadi bersemangat untuk melupakan orang itu.” Jiyong mengutarakan pendapatnya.

“Tepat sekali… karena kau warna lagu CL berubah.. dan perubahan itulah yang kuharapkan.. jadi kutugaskan padamu untuk mengasah bakat CL itu…”

“Haruskah Sajangnim?” Jiyong bertanya.

“Ya… CL selama ini terjebak pada lirik-lirik monoton… dan aku ingin kau membuatnya jadi lebih bervariasi.. mengerti?” Hyun-Suk mencoba memberi penjelasan pada anak didiknya itu.

“Akan kuusahakan Sajangnim… “ Jiyong menjawab tanpa memberi kepastian.

TBC-😀

comments are loves❤

19 thoughts on “[SKYDRAGON][CONT.] When Love Comes Over (chap.1)

    • hallo Dicta… sekar imnida😀 thanks juga udh berkunjung ke baby blog ini ya hehehhe🙂

      ia, kebetulan baru tau dri temen ttg FFlovers eh trus malah kepincut sama cerita2 di situ ^^ kamu yg nulis fanfic Bom-YB , and TOP-Minji kan? hehehe mian blom sempet comment ya, abis bacanya dari hape sih jdi blom sempet comment.. hehhe~~

      keep reading ya❤

  1. Ping-balik: [Free Writer] When Love Comes Over (Part 1) « Fanfiction Lovers~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s